Selasa, 18 Maret 2008

Keutamaan Sepuluh Hari Bulan Dzulhijjah

بسم الله الرحمن الرحيم

KEUTAMAAN SEPULUH HARI BULAN DZULHIJJAH

Oleh : Mochammad Maman Rosdiawan

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغغره ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضلله ومن يضلل فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله و أشهد أن محمدا رسول الله. أما بعد

Diantara kemuliaan dan keutamaan yang telah diberikan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang shaleh yaitu dengan menjadikan hari-hari, bulan-bulan, dan musim-musim dimana seorang hamba dapat memperbanyak timbangan amalan shaleh dengan melakukan ibadah-ibadah yang telah disyariatkan pada waktu itu.

Umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebaik –baik umat manusia, karena mereka dibebani oleh Allah untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang mungkar.( Ali Imron 110)

Meskipun tidak bisa kita pungkiri bahwa umat ini juga umat yang paling lemah ketimbang umat-umat terdahulu. Bahkan umur umat ini adalah umur yang paling pendek yang diberi oleh Allah SWT ketimbang umur-umur umat terdahulu. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

(أعمار أمتي بين ستين وسبعين) (رواه الترمذي وابن ماجه)

“ Umur-umur umatku antara enam puluh dan tujuh puluh tahun (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Akan tetapi bukan berarti dengan umur yang pendek, umat Muhammad ini tidak mampu menandingi umat-umat terdahulu dalam hal amalan. Allah memberikan berkah dari umur umat ini dengan melipatgandakan amalan-amalan shaleh yang dilakukan pada musim-musim tertentu yang diutamakan oleh Allah SWT, sehingga barang siapa yang mengerjakan amal shaleh pada waktu itu maka seakan-akan dia telah dikaruniai umur yang panjang. Seperti keutamaan lailatul qodar yang telah disebutkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya yang berbunyi :

ليلة القدر خير من ألف شهر (القدر 3)

“ Lailatul Qadar lebih baik dari seribu bulan ( Q.S. Al-Qodar 3)

Imam Ar-Rozi berkata : Ketahuilah barang siapa yang menghidupkan malam itu (lailatul qadar) maka seakan-akan dia menyembah Allah selama 83 tahun 4 bulan, dan barang siapa yang menghidupkannya setiap tahun maka seakan-akan dia dikaruniai umur yang panjang.

Dan diantara hari-hari yang diberkahi dan diutamakan oleh Allah adalah sepuluh hari di bulan Dzulhijjah. Telah ditetapkan fadilahnya dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah, diantaranya adalah :

1. والفجر وليال عشر)الفجر 1-2)

“ Demi Fajar. Dan malam yang sepuluh (Q.S. Al-Fajr 1-2).

Ibnu Katsir berkata : yang dimaksud dengannya adalah sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

2. ويذكروااسم الله فى أيام معلومات (الحج 28)

“ Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan “ (Q.S. Al-Hajj 28).

Ibnu Abbas berkata : Hari-hari sepuluh bulan Dzulhijjah.

3. Dan didalam sebuah hadits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ما العمل في أيام أفضل من هذه العشر. قالوا : ولا الجهاد ؟ قال : ولا الجهاد، إلا رجل خرج يخاطر بنفسه و ماله فلم يرجع بشئ

  1. Hadits Ibnu Abbas R.A juga yang dikeluarkan oleh al-Bukhari bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

(ما من أيام العمل الصالح فيها أحب إلى الله من هذه الأيام) يعني أيام العشر. قالوا : يا رسول الله ولا الجهاد فى سبيل الله ؟ قال : (ولا الجهاد فى سبيل الله، إلا رجل خرج يخاطر بنفسه وماله ثم لم يرجع من ذلك بشئ) (رواه البخاري)

“ Tiada hari-hari yang mana amalan shalih lebih Allah cintai daripada hari-hari ini – yaitu sepuluh hari bulan Dzulhijjah_- . mereka (para sahabat) bertanya : Wahai Rasulullah, apakah jihad fisabilillah juga (kalah fadilahnya dengan amalan-amalan sepuluh hari bulan Dzulhijjah)? Rasulullah SAW bersabda : begitu juga jihad fi sabilillah, kecuali seseorang yang keluar mengorbankan dirinya dan hartanya kemudian dia tidak kembali dengan membawa apapun. (H.R. Bukhari)

  1. Dari Ibnu Umar R.A. berkata , Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر، فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد (رواه أحمد و الطبراني فى المعجم الكبير)

“ Tiada hari –hari yang paling agung dan paling dicintai oleh Allah untuk melakukan amalan didalamnya dari sepuluh hari bulan Dzulhijjah, maka (untuk itu) perbanyaklah tahlil, takbir dan tahmid “ (H.R. Imam Ahmad dan Thabrani di dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir)

Dan juga Said bin Jubair (salah seorang perawi hadits ini) jika tiba sepuluh hari bulan Dzulhijjah beliau selalu giat untuk melakukan ibadah sampai-sampai hampir saja beliau tidak kuat/tidak mampu untuk menjalankannya.

  1. Dari Ibnu Umar R.A juga berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

لا تطفئوا سرجكم ليالي العشر

“ jangan kalian matikan lampu-lampu kalian pada malam-malam sepuluh bulan Dzulhijjah “. hal ini sebagai kinayah/sindiran untuk membaca al-Qur’an dan qiyam/sholat malam.

Kalau memperhatikan hadits-hadits diatas maka kita akan menarik kesimpulan bahwa fadilah yang terkandung dalam sepuluh hari bulan Dzulhijjah ada pada 2 (dua) hal : Fadilah amalan-amalannya dan fadilah hari-harinya .

Adapun fadilah amalan-amalannya, apapun amalan yang dilakukan pada hari-hari itu adalah lebih Allah SWT sukai dari amalan-amalan di hari-hari yang lain secara mutlak. Untuk itu ketika Allah SWT lebih menyukai amalan tersebut, sudah barang tentu amalan itu mendapat nilai plus dan pelipatgandaan pahala. Walaupun sebenarnya amalan tersebut secara dzat biasa-biasa saja, hal itu dikarenakan dilakukan pada hari-hari utama seperti sepuluh hari bulan dzulhijjah.

Tentang pelipatgandaan pahala telah dijelaskan sebuah hadits dari Ibnu Abbas sebagai tambahan dari hadits diatas ( والعمل فيهن يضاعف بسبعمائة). “ Dan Amalan didalamnya dilipatgandakan sampai tujuh ratus lipat “.

Adapun kadar pelipatgandaan pahala juga telah dijelaskan dalam riwayat-riwayat hadits yang banyak sekali. Imam at-Tirmidzi dan Ibnu Majah mengeluarkan sebuah hadits dari riwayat an-Nahhas bin Qohm dari Qatadah dari Ibnul musayyib dari Abu Hurairah R.A. dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda :

(ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة، يعدل صيام كل يوم فيها بسنة وقيام كل ليلة فيها بقيام ليلة القدر)

“ Tiada hari-hari yang lebih Allah cintai untuk melakukan amalan ibadah kepadaNya dari sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Puasa setiap harinya sama dengan puasa setahun dan qiyam/shalat malam setiap malamnya sama dengan qiyam lailatul qadar”.

Imam at-Tirmidzi menyebutkan dai al-Bukhari bahwa hadits tersebut diriwayatkan dari Qatadah dari Said secara mursal. Dan diriwayatkan dari Tsuwair bin Abi Fakhitah dari Mujahid dari Ibnu Umar R.A. berkata :

ليس يوم أعظم عند الله من يوم الجمعة ليس العشر، فإن العمل فيها يعدل عمل سنة

“ Tiada hari yang paling agung bagi Allah dari hari Jum’at kecuali sepuluh hari bulan Dzulhijjah, karena sesungguhnya amalan didalamnya sama dengan amalan dalam setahun “

Dan diriwayatkan juga dari Abu Amr an-Naisabury dalam kitab al-Hikayat dengan sanadnya dari Humaid ia berkata : Aku mendengar Ibnu Sirin dan Qatadah berkata : “ puasa setiap hari pada sepuluh hari bulan Dzulhijjah sama dengan berpuasa setahun ”. Dan diriwayatkan juga dari Harun bin Musa an-Nahwi dia berkata : dikatakan untuk sepuluh hari bulan Dzulhijjah : setiap harinya mempunyai keutamaan seribu hari dan hari Arofah mempunyai keutamaan sepuluh ribu hari.

Ibnu Hajar berkata :

والذي يظهر أن السبب فى امتياز عشر ذي الحجة : لمكان اجتماع أمهات العبادة فيه وهي الصلاة والصيام والصدقة والحج ولا يأتي ذلك فى غيره

“ Yang jelas bahwa sebab diutamakannya sepuluh hari bulan Dzulhijjah adalah karena didalamnya terkumpul pokok-pokok (induk) ibadah yaitu shalat, puasa, shadaqah dan haji dan tidak ada didalam ibadah lainnya “.

Maka jelas sekali bahwa hadits Ibnu Abbas dan yang lainnya diatas menunjukkan pelipatgandaan pahala berlaku untuk semua amalan shaleh yang dilakukan di sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

Dan banyak sekali riwayat-riwayat hadits yang menyebutkan kekhususan puasa pada hari-harinya, qiyam/sholat malam pada malam-malamnya dan memperbanyak dzikir walaupun ada sebagian riwayat yang tidak pantas untuk kita sebutkan karena ketidak shahihannya. Berikut akan kami sebutkan beberapa hadits tentang kekhususan amalan tersebut :

1. Disebutkan dalam Musnad dan Sunan sebuah hadits dari Hafshah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan puasa ‘Asyura’, puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah dan puasa tiga hari di setiap bulan.

2. Dan diriwayatkan pula dari sebagian istri-istri Nabi bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah meninggalkan puasa 9 hari bulan Dzulhijjah.

3. Dan Abdullah bin Umar R.A. selalu berpuasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah.

Maksud dari puasa sepuluh hari bulan Dzulhijjah adalah selain tanggal 10 Dzulhijjah, karena ada pelarangan secara khusus dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berpuasa pada hari-hari ied. Wallahu ‘alam.

Adapun mengenai fadilah hari-hari sepuluh bulan Dzulhijjah adalah sebagai berikut :

1. Bahwa Allah Subhanahu Wata’ala secara gamblang dan jelas bersumpah dengan malam-malam sepuluh bulan Dzulhijjah (Q.S. Al-Fajr 1-2). Dan kita ketahui bahwa Allah SWT tidaklah bersumpah dengan sesuatu kecuali sesuatu tersebut mempunyai nilai utama bagi Allah.

2. Bahwa sepuluh hari bulan Dzulhijjah adalah hari-hari dimana Allah Subhanahu wata’ala mensyariatkan untuk berdzikir kepadaNya atas nikmat rizki berupa binatang ternak.

3. Bahwa sepuluh hari bulan Dzulhijjah adalah termasuk dari penyempurnaan bilangan empat puluh hari yang telah Allah janjikan kepada Nabi Musa alaihissalam, sesuai dengan firman-Nya :

وواعدنا موسى ثلاثين ليلة وأتممناها بعشر فتم ميقات ربه أربعين ليلة (الأعراف 142)

“ Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam,dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam “. (Q.S. Al-A’raf 142).

4. Bahwa sepuluh hari bulan Dzulhijjah adalah penutup bulan-bulan haji yang telah Allah firmankan dalam ayatnya:

الحج أشهر معلومات (البقرة 197)

“ (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi “. (Q.S. Al-Baqarah 197), yaitu Syawal, Dzulqo’dah dan sepuluh hari bulan Dzulhijjah menurut jumhur ulama.

5. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya : mana yang lebih afdol (baik), sepuluh hari bulan DZulhijjah atau sepuluh terakhir bulan Ramadhan? Beliau menjawab : Malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan lebih utama daripada malam-malam sepuluh bulan Dzulhijjah, tetapi hari-hari sepuluh bulan Dzulhijjah lebih utama daripada hari-hari sepuluh terakhir bulan Ramadhan.

Dan masih banyak dalil-dalil dari perkataan ulama yang menjelaskan tentang fadilah hari-hari sepuluh Dzulhijjah ini.

Maka dari itu sebagai seorang mu’min yyang hakiki, seyogyanya kita tidak meninggalkan sedikitpun akan keutamaan sepuluh hari bulan Dzulhijjah untuk terus beramal shaleh, mengharap ridho dan perlipatan pahala dari Allah Subhanahu Wata’ala. Orang yang diberi taufiq oleh Allah akan mendapat kemudahan dalam menjalankannya.

Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufiq dan hidayah-Nya dan memberikan kemudahan kita dalam melaksanakan seluruh amalan sesuai dengan yang telah disyariatkanNya melalui lisan dan amalan Rasul-Nya. Amien Ya Robbal ‘alamien.

وصلى الله وسلم وبارك على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم تسليما كثيرا.

المراجع : ( Daftar referensi )

1. كتاب دروس العام – مجموعة من العلماء.

2. كتاب لطائف المعارف فيما لمواسم العام من الوظائف – للإمام الحافظ زين الدين بن رجب الحنبلي.

Tidak ada komentar: